Saturday, April 25, 2015

Sesederhana ‘Mewarnai’ Wortel dengan Oranye: Dari Warna Sayuran Menjadi Identitas Bangsa


Sebagai negara kecil yang diklaim memiliki penduduk tertinggi di dunia (rata-rata 1.81m untuk laki-laki dan 1.68m untuk perempuan), Belanda adalah negara yang tidak hentinya menciptakan berbagai inovasi berkualitas tinggi yang berguna di berbagai bidang. Banyak penemuan kelas dunia yang telah ditemukan maupun dikembangkan oleh bangsa Belanda, sebut saja yang terkenal antara lain mikroskop (1590), hingga Wifi (1990) yang saat ini adalah fasilitas wajib di berbagai area publik seperti kafe hingga stasiun sekalipun.

Dengan daftar berbagai penemuan besarnya, mungkinkah Belanda juga memiliki sebuah inovasi yang begitu sederhana, yang bahkan tidak disadari orang-orang pada umumnya? Mungkinkah hal  itu sesederhana ‘mengubah’ warna wortel menjadi oranye?



Seperti dilansir oleh direktur Next Nature Network, Koert van Mensvoort (2011), yang menerangkan bahwa wortel awalnya tidak berwarna oranye. Wortel yang memiliki nama Latin Daucus carota ini umumnya didominasi oleh warna ungu dan pertama kali dibudidayakan sekitar abad ke-X Masehi di Afganistan dan beberapa wilayah di Asia. Sesekali muncul versi hasil mutasi, seperti wortel yang berwarna kuning dan putih di Eropa, tetapi jenis ini jarang dibudidayakan dan tidak mengandung antosianin, yaitu pigmen penghasil warna pada tumbuhan. Wortel ungu yang dulunya merupakan tanaman liar ini berukuran kecil, dagingnya keras, berwarna pucat, dan rasanya pun pahit, sehingga umbinya sama sekali tidak dimanfaatkan, hanya bagian daun dan bunganya saja yang diolah untuk kebutuhan pangan.



Hingga di tahun 1500-an,  beberapa petani dari Hoorn, sebuah daerah di sebelah utara Belanda, memulai pembiakan wortel berwarna oranye. Para petani Belanda tersebut mengambil strain mutan dari wortel berwarna ungu dan secara bertahap mengembangkannya menjadi wortel berwarna oranye. Wortel juga dikembangkan dengan menyilangkan wortel berakar kuning dan putih hasil mutasi dengan varietas wortel liar, yang sangat berbeda dari varietas wortel hasil budidaya, sehingga berwarna oranye dan menjadi varietas yang dominan di seluruh dunia hingga saat ini.

Mengapa bangsa Belanda memilih untuk mengembangkan wortel varietas ini? Hal ini disebabkan wortel oranye lebih manis dan lebih gemuk dibanding wortel ungu, yang tentu saja berdampak pula bagi kualitas gizi yang dikandung di dalamnya. Warna oranye yang terdapat pada wortel berasal dari beta karoten, suatu zat yang fungsinya memetabolisme garam empedu menjadi vitamin A yang berguna bagi kesehatan mata di dalam usus manusia dan juga pada hewan (kecuali kucing).

Saking terkenalnya wortel ini sebagai tumbuhan yang mengandung banyak vitamin A yang berguna bagi kesehatan mata, ada legenda yang mengatakan bahwa penembak Inggris pada Perang Dunia II mampu menemukan dan menembak jatuh pesawat tentara Jerman di malam hari akibat mengonsumsi wortel secara besar-besaran sehingga dapat melihat dengan jelas pada malam hari! Tentu saja hal ini tidak benar, melainkan karena kemajuan teknologi radar bangsa Inggris pada masa itu. Mereka hanya menyebarkan rumor itu untuk menakut-nakuti bangsa Jerman yang lucunya mempercayai hal tersebut.

Lantas mengapa memilih warna oranye, bukan hijau atau bahkan biru? Hal ini bisa dikaitkan dengan sejarah Belanda. Adalah Willem van Oranje (24 April 1533 - 10 Juli 1584), seorang berkebangsaan Jerman yang berjuang untuk memerdekakan Belanda yang walaupun pada masa itu tengah menjajah Indonesia namun bangsanya juga ternyata tunduk di bawah kekuasaan Kekaisaran Spanyol. Kecewa dengan sentralisasi kekuasaan politik Spanyol, Van Oranje kemudian memimpin revolusi pemberontakan untuk memerdekakan Belanda yang memicu meletusnya Perang Delapan Puluh Tahun dan akhirnya membawa Belanda  ke gerbang kemerdekaan secara penuh pada 30 Januari 1648. Van Oranje yang akhirnya menjadi ‘Bapak Bangsa’ bagi Belanda kemudian mendirikan House of Orange-Nassau dan resmi menjadi keluarga Kerajaan Belanda. Dikatakan bahwa petani Belanda mengembangbiakkan wortel berwarna oranye ini sebagai cara rahasia untuk menunjukkan dukungannya kepada Van Oranje, yang saat itu kurang memperoleh simpati untuk menjadi keluarga Kerajaan Belanda dikarenakan identitasnya yang bukan berkebangsaan Belanda.



Walaupun dewasa ini predikat penghasil wortel terbesar di dunia dipegang oleh negara Cina yang menyuplai sekitar sepertiga dari kebutuhan wortel di seluruh dunia, namun jika dikumulatifkan untuk semua jenis makanan, Belanda menduduki peringkat ketiga dunia sebagai pengekspor makanan terbesar. Tidaknya heran jika Belanda selalu berusaha mengembangkan inovasi bagi sumber daya hewan dan tumbuhannya demi meningkatkan kualitas pangan yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai belahan dunia. 

Penemuan ini mungkin tidak setenar inovasi Belanda lainnya, seperti kincir angin ataupun bendungan, namun secara tidak langsung telah menjadi identitas bangsa. Hal ini bisa dilihat dalam kostum sepakbola nasional Belanda yang begitu bangga menggunakan warna oranye. Bahkan seandainya kita berkunjung ke Belanda bertepatan dengan Queen’s Day, semua masyarakat tumpah ruah ke jalan, bersorak-sorai dalam riuhnya parade yang didominasi warna oranye. Oranye telah menjadi kebanggaan Belanda, baik itu warna maupun sejarahnya yang panjang. Mungkin hal ini juga yang menjadi tombak semangat Belanda untuk selalu berkarya melalui penemuan dan inovasi mutakhirnya. Seperti bunga tulip yang terus berkembang dan kanal Amsterdam yang alirannya senantiasa memberi kehidupan, semoga Belanda selalu dan akan terus mengundang decak kagum dunia akan inovasinya yang tiada batas dalam segala aspek kehidupan.

Referensi:
  1. http://www.berkuliah.com/2014/07/50-fakta-menarik-tentang-belanda.html
  2. http://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Dutch_inventions_and_discoveries#Wi-fi_.281990s.29
  3. https://www.rnw.org/archive/royal-history-carrot
  4. http://www.kembangpete.com/2014/07/17/sebelum-abad-ke-17-wortel-berwarna-ungu/
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/William_the_Silent
Elemen: Earth

Tulisan ini saya buat dalam rangka mengikuti Holland Writing Competition 2015 untuk  memenangkan hadiah summer course di Utrecht Summer School, Belanda, selama 4 minggu. Wish me a very good luck!


Friday, June 1, 2012

Back, Again

I left this blog for TOO long.


I don't know, but actually I'm still writing. Even I wrote so much. The problem is, I wrote so much things to share but in other way.


I wrote to win a contest. I wrote to apply a scholarship. I wrote for my new website. I wrote my thesis. Even I wrote lots on my answersheet on examination. But I never wrote for myself anymore.


Now I realize it, and I'm trying to back now. It's 1st June now. Call it summer holiday, I have not so much things to do now. Senior year has end, and I'm thinking to resign from my job. Just wait until graduation. I have lots of time as I'm with my mind.


So I challenging myself to write for this month. 30 writing as I always and always said that I owe you lots of stories. Will pay them all, including how I think to improve my welding skill. I live my own life now.


Will start by tomorrow.

See you soon.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, April 5, 2012

April Mop dan 10 Bulan yang Lalu

i love you.

tidak perlu banyak kata. dulu, sekarang, dan seterusnya. itu saja.
ini serius. percayalah.

Friday, January 20, 2012

31 Agustus 2011

Ingin rasanya kembali ke hari itu, ke malam itu. Hari yang selama hampir sepanjang tahun selalu kutunggu, hari di mana hanya ada kamu, pahitnya kopi, dan manisnya obrolan yang menyempurnakan langit malam. Hari itu aku, masih berambut hampir sepinggang, kamu dengan baju merah kesayanganmu, dan percakapan yang sampai hari ini belum ada akhirnya. Semua kita tuangkan bersama, mulai dari obrolan konyol seputar gang Doli, perkebunan kopi, hingga masa lalu kita yang sebenarnya agak canggung kudendangkan, tetapi ingin kudengar lantunannya darimu.

Bagaimana mata kita? Oh, mereka bertatapan, meski sekali pandanganmu berpindah ke kumpulan perempuan cantik mengenakan hak tinggi yang mengundang komentarmu, “Mengapa mereka harus menyiksa diri seperti itu?”, yang hanya kutanggapi dengan senyuman karena aku tidak mampu berpenampilan seperti mereka tetapi dalam hati bersyukur, semoga ini yang membuatku berbeda di matamu. Dan baumu! Saya tidak tahu pasti itu parfum apa, baunya tersamarkan bau rokokmu dan sweatermu yang kamu pakai saat mengantarku pulang, tapi telah menggelitik hidungku, mengantarnya hingga ke kepala, menyimpannya di memori, menjadikannya kenangan.

Malam itu, aku jatuh hati padamu. Saat di mana aku bukan milik siapa-siapa, begitu pun kamu dan masa lalumu. Tidak ada janji yang terucap, tapi di dalam hati aku berkata semoga denganmu semua luka bisa terobati, memulainya dari awal lagi, sembari berharap ini yang terakhir.

Dan bagaimana kita hari ini? Ah, ternyata berbeda. Kamu kembali dengan dunia lamamu, dengan kebebasanmu. Dan aku, aku kini milik orang lain. Janji itu ternyata bukan untukmu. Terkadang menyatukan hati tidak semudah menyatukan pikiran. Inilah kita hari ini, berdansa dengan cangkir dan lini masa, sendiri-sendiri. Mungkin hari seperti ini tidak akan pernah hadir kembali, dilebur waktu dan kenangan yang mungkin akan dilupakan.
                                                                     
Dan malam ini, aku kembali teringat. Tentang kamu, dan hari itu. Akankah kita duduk bersama lagi, bersama kopi, rambutku yang kini pendek, dan kemejamu yang menggantikan sweater dan kaos itu? Ah ya, obrolan kita bahkan belum tuntas. Masih banyak, dan semakin banyak hal yang ingin kubagi denganmu, juga lantunan impian yang selalu ingin kudengar darimu. Intinya, aku rindu kamu.

So let’s go offline, set the date and chat. Finish the stories. Will you?

Saturday, September 10, 2011

Unsocial Social Network - Hibernation

Back to Makassar means back to my REAL life. Since I left Sorowako and being here again my activity has been change, back to how it used to be. It’s kinda, even totally different than when I was in Sorowako, when I spent most of my time with internet because I didn’t have so much things to do in a small town like that. Be friends with my social network accounts, such as Facebook, Twitter, Tumblr, and so on, and so on. Made me really became an unsocial person.

But man, this is a big city, and back to real life means back again to my daily routine, meet people, and sure, become a social person. In fact, since I’m back in here and I really enjoy my new life it feels like I forget my social network accounts because I’m too glad to meet my friends and my bf and spend time with them. Oh yes, I still a social person.

So, enough for unsocial social network. I’ve spent too much time with it, so I decide to hibernating starts from today. Will leave all my account for couple of weeks while internet connection in my home is totally bad lately and I also have to reinstall my laptop and smartphone. I also think to make some underconstruction for ALL my social network account, well just for make something new to celebrate my 21th birthday, a new phase in my life. I still have no idea what it will be, well let me think about that. Due I still owe you my stories, I promise I’ll wake up soon from this hibernation.

See you again (maybe) on my birthday.
Have a nice dream.

Thursday, September 1, 2011

Today's Coffee

Yay, Lebaran!

It’s very nice to celebrate Idul Fitri this year after I spent Ramadhan without my family even it’s not the first time, actually. But being home, meeting people again, and spending time by do something I like in my room are things that I really miss. And nothing will beat, my ‘date’ with a cup of coffee, especially in the morning.

So I’ve got it, today, a very special day with coffee. Started with ‘kopi tubruk’ in the morning; a gift from someone, robusta coffee from Enrekang that he promised me since few days ago; and spent night by sitting in a coffee shop, enjoy my Colombian Medellin while he smelt his Double Espresso. Oh my, feels like I found my life back after stuck in Sorowako for more than 5 months.

But wait, ‘my life back’? Which life has back? Well I just suddenly remember how I live my life before I went to Sorowako. And how everything has different now, when almost things has been changed. The way I dress, the way I tie my hair, how I talk, how I walk, what I feel, what I think. I don’t know but, I just… feel it.

And one thing you can see from it difference now is you can find I often alone lately. When before I went to Sorowako I had a boyfie that we always been around together, but as you know we’re broke up. It was quite annoying to me when everybody asks me, “Where’s he? Gosh, you’re broke up? But how come!” damn, as it will never happen to me. But I admit to you, my biggest fear is I still remember him as every corner in this town reminds me about him. How we spent almost one year together, it’s not easy to forget, yeah I know. I enjoy my freedom now, but sometime still curse myself how I made damn mistake that back to him and now, we’re broke up again for the same reason. Call me stupid, that the fact.

But as I got from this conversation tonight is it’s not suppose to feel this way. Nothing’s wrong with the decision to broke up, even the past may never dead on my mind because all have to do is keep is as a memory and learn from that mistake. Live must goes on, as I find my new spirit now to change my life. From become a vegetarian, wear some blouse (even only for satnite), work out often, and all educated project I’ll do for this semester. And with all my friends and people I love around me, well there’s nothing wrong to being lonely for this time. It’s not forever anyway, just not the right time yet until I find the best one for being together with again.

And I believe as I tasted my coffee tonight, everything will be greater, neither without sugar nor the creamer, or no matter how much it is. Live will be better at it best time, after all.


PS: Way too much coffee makes me mad with this insomniac tonight. But if weren't for the coffee, I'd have no identifiable personality whatsoever :)

Monday, August 22, 2011

Gerhana



Bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, yang hanya bisa bersenggama ketika gerhana.
Bulan dan matahari menderita. Mereka tak pernah satu waktu. Itulah mengapa mereka mencintai gerhana.
Mereka selalu menunggu konspirasi waktu, untuk lalu berpisah berlawanan arah.

Demi bumi mereka mengitari.
Karena bumi, bulan dan matahari terhalangi.

Kau tahu apa yang bulan tinggalkan untuk matahari? Ia meninggalkan kecupan lewat embun pada fajar, tangan matahari yang berusaha mengangkat diri di ufuk cakrawala.
Sebagai gantinya, matahari menitipkan cahyanya pada milyaran bintang, untuk menemani malamnya.

Itulah cinta, tanpa bosan mereka lakukan berulang-ulang.
Embun dan bintang, pesan cinta yang tersebar ke penjuru semesta.
Demi bulan, embun, bintang dan matahari. Aku pun sedang menunggu gerhana, denganmu, tanpa akan terpisah lagi.

Denganmu, kita ciptakan gerhana sendiri,
menunggu pesan cinta yang kau titipkan pada semesta.

Saturday, August 20, 2011

That's The Dream, This's The Real

Weekend terakhir saya di Sorowako dimulai dengan percakapan telepon yang tidak disengaja. Percakapan dengan seseorang yang dua bulan terakhir menjadi teman begadang jarak jauh saya, teman ngobrol lewat chat dan sms, teman berbagi cerita tentang musik folk, film Prancis, kopi, dan indahnya alam Indonesia. Seseorang yang selama 3 tahun kadang berpapasan dengan saya di kampus tanpa pernah dilanjutkan dengan sebuah percakapan karena sama-sama tidak tahu ternyata punya hobi dan minat yang sama dengan saya.

Kemarin saya sempat bercerita kepada dia tentang cita-cita saya, betapa hal itu selalu berubah mulai dari saya kecil sampai hari ini. Bagaimana tayangan Discovery Channel dan National Geography sukses membuat saya bersemangat belajar sejarah karena ingin menjadi arkeolog semasa SD. Menginjak SMP, ajaibnya tubuh manusia dan nilai biologi yang selalu di atas rata-rata menginspirasi saya untuk menjadi dokter. Masuk SMA, kecintaan pada dunia bola dan fashion membuat saya berpikir untuk kuliah komunikasi agar bisa menjadi wartawan untuk dua bidang tersebut. Dan coba tanya saya hari ini, apa cita-cita saya, maka saya akan menjawab ingin menjadi travel-writer, sesuatu yang seluruh dunia tahu betapa saat ini saya sedang senangnya menulis dan besarnya obsesi saya untuk traveling keliling dunia suatu saat nanti.

Tapi lihat apa yang malah saya pelajari di bangku kuliah. Teknik industri. Sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, sesuatu yang entah kenapa saya jadikan pilihan kedua saat mendaftar kuliah. Sesuatu yang membuat saya rela meninggalkan Akuntansi UGM dengan predikat 100 terbaik dunianya yang selalu disebut dalam doa mama sepanjang tahun terakhir saya di SMA. Sesuatu yang sampai hari ini kadang membuat saya bingung mau jadi apa saya dengan ilmu ini setelah kuliah nanti.

Hingga satu pertanyaan meluncur, “Jadi sebenarnya kamu mau jadi apa? Memangnya mau jadi karyawan?”. Oh well, pertanyaan yang bahkan di saat saya sudah bersiap mengerjakan skripsi belum bisa saya pastikan jawabannya. Memang benar, seharusnya saat ini saya sudah mulai berpikir mau jadi apa saya nanti, bukan lagi angan-angan menggali situs purbakala di Peru atau meliput Piala Dunia 2014 di Brasil. Tetap mengkhayal, atau semua perjuangan begadang demi menyelesaikan gambar kopling atau ribetnya menghitung data anthropometri akan sia-sia. Kali ini saya harus realistis, memikirkan pekerjaan apa yang nanti akan menghidupi saya dan akan menjadi tumpuan hidup hingga hari tua.

Tapi menjadi karyawan, entahlah. Rasanya saya belum siap harus tunduk pada jam kerja dan kenyataan bahwa hanya akan ada 12 hari cuti dalam setahun. Terbayang saya harus membetahkan diri di kantor dan itu berarti saya tidak akan bebas traveling ke manapun seperti impian saya. Lima bulan berada di proyek ini saja sudah membuat saya bosan setengah mati, bagaimana nanti jika rutinitas seperti ini akan menjadi suatu alasan untuk tetap bertahan demi hidup dan keluarga? Saya mungkin belum siap, mungkin tidak mau. Kalau boleh egois, saya tidak mau bekerja. Mending saya jadi backpacker saja seperti teman-teman di komunitas saya. Keliling dunia dengan biaya sangat minim, hidup di jalan, tidak perlu memikirkan kekayaan karena dengan melihat dunia kekayaan pengalaman saya bakal lebih dari sekadar apa yang orang awam sebut dengan sejahtera. Tapi tidak dengan kenyataan. Fakta bahwa saya adalah anak pertama dan akan menjadi tumpuan harapan keluarga, punya ibu pensiunan yang ingin sekali saya bahagiakan hari tuanya dan adik perempuan kecil yang masih butuh sekolah setingginya dan sudah mulai mengukir mimpinya sendiri untuk kuliah di Prancis memaksa saya untuk berpikir tentang masa depan saya nanti. Memaksa saya untuk siap jika suatu saat nanti semua impian dan rencana saya harus sedikit terhalangi dengan tembok ruang kantor, padatnya deadline, dan jumlah cuti yang rasanya sangat sulit untuk mewujudkan impian saya untuk keliling dunia.

Dan itulah kenyataannya. Tahun depan saya mungkin bukan lagi mahasiswa, rutinitas saya tidak lagi rumah-kampus-bioskop-toko buku-warkop-karaokean-liburan, dan di pagi hari pikiran saya bukan lagi tentang ‘Pakai baju apa ke kampus hari ini?’, tapi ‘Minggu ini ada deadline apa? Rekening listrik sudah dibayar? Harus belanja apa untuk masak sebentar malam? Jangan lupa beli susu kalsium untuk Mama dan kasih Melly uang untuk beli seragam baru’. Mungkin saat itu saya yang akan pegang kendali, menggantikan tahta mama yang sebelumnya mengontrol semuanya, juga dengan cara dia membaktikan dirinya untuk kami berdua sebagai karyawan, 20 tahun di balik meja, komputer, dan deadline yang menggila.

Tapi hey, setidaknya saya masih menjadi mahasiswa sampai tahun depan, kan? Masih ada waktu untuk senang-senang, menikmati hari bersama teman-teman dan pacar, masih ada waktu untuk belajar mempersiapkan semua perubahan dan menerima tanggung jawab itu. Lagipula tidak semuanya buruk, kok. Setidaknya salah satu bukti nyata adalah walaupun mama telah mengabiskan hampir separuh hidupnya di balik meja kantor dia tetap bisa mengelilingi hampir separuh dunia hanya dengan cuti 12 hari setahun. Mungkin saya bisa lebih baik dari itu.

Dan dengan semua pengalaman, mimpi, dan semester tujuh yang akan menyongsong Senin depan, tanyakan saya ingin jadi apa suatu hari nanti, dan jawabannya adalah ‘Saya ingin menyelesaikan kuliah tahun depan, bekerja di perusahaan international, di umur 25 mendapat beasiswa untuk belajar Industrial Ecology di Belanda, keliling Eropa dan India, serta menemukan seorang pemimpi yang akan menjadi ayah dari jagoan-jagoan kecil saya yang akan melanjutkan mimpi-mimpi kami dan mungkin, mengukir mimpi mereka sendiri’.

Well, cita-cita mungkin boleh mati, tapi impian akan tetap hidup dan menunggu untuk diwujudkan. Seperti itu, kan?

Friday, August 19, 2011

Akan Ada Hari

Akan ada hari dimana aku menantimu di balik pintu.
Menjaga hangatnya kopimu, menunggu diseruput lelahmu.

Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu.
Kita bersujud dalam sepenggal waktu, berulang kali.

Akan ada hari dimana seluruh doa yang terucap dari bibirmu.
Kuamini juga dalam hati, satu shaf di belakangmu.

Akan ada hari kusiapkan sahurmu, dengan senang hati.
Dan menanti berbuka sembari mengukir senja.

Akan ada hari, kaudengungkan adzan di balik daun telinga sosok yang mungil,
yang mewarisi sebagian parasmu, dan sebagian tingkahku.

Akan ada hari, kita melihat nisan. Dan memesan sepetak lahan, berdampingan.
Untuk nanti, ketika esok tak ada lagi.

Akan ada hari, entah kau, atau aku yang merana. Karena salah satu dari kita akan pergi lebih dulu. Meninggalkan dunia, melepaskan fana.

Thursday, August 18, 2011

Sendiri.

Dan inilah pagiku, duduk sendiri ditemani segelas kopi tubruk hangat, sebungkus Oreo original, novel tentang Rusia yang baru belum seperempatnya dibaca, lagu country yang petikan gitarnya membuat kepala saya bergoyang ke kiri dan kanan, dan sakit perut yang mengawali bolosnya saya dari puasa Ramadhan sampai setidaknya seminggu ke depan. Setidaknya dengan sakit ini berarti saya perempuan sehat yang Insya Allah bisa menjadi ibu untuk anak-anak saya nanti.

Hanya kurang seseorang dan obrolan seru tentang traveling untuk menjadikannya sempurna.

Serius, akhirnya saya bisa sendiri di rumah sebesar ini yang dihuni 16 orang yang selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bagus dengan semangat badmintonnya, Iqra dengan gamenya, Mili dengan kegiatan pacarannya di telepon, Awa dengan aktivitas keibuannya di dapur, dan saya? Saya dengan obrolan seru yang tidak pernah ada habisnya bersama Cha yang sukses membuat rumah rame dan tidak jarang, ribut. Ditambah dengan kunjungan dari teman-teman Ranau dan Poso membawa kejahilan Fikar dan kejayusan Kiky  yang menjadikannya kebersamaan yang sempura. Tapi pagi ini saya sendiri, ditinggalkan mereka yang masih harus tunduk pada kontrak kerja yang belum tuntas sampai minggu depan.

Sendiri? Mungkin aneh, tapi inilah yang saya rindukan selama hampir 5 bulan terakhir, sesuatu yang mungkin kebanyakan orang pikir sangat tidak ‘saya’. Saya yang selalu aktif dan cerewet kangen sendiri. Sedang galau, tidak. Hidup saya sangat indah saat ini, saya memiliki semuanya, bahkan mimpi yang menunggu untuk diwujudkan; dikelilingi orang-orang yang saya sayangi dan dinanti mereka yang saya rindukan;  dan semangat untuk pulang dan bertemu lagi dengan keramaian Makassar.

Sebut saja saya berkepribadian ganda, dan semua yang saya tunjukkan selama 5 bulan ini sudah cukup dan ingin berbalik menunjukkan sisinya yang lain. Bahkan mungkin ketika kalian membaca ini kalian akan berkata, “Ini sangat tidak kamu!”, seperti Madi yang pernah berkata “Saya lebih baik mengenal kamu lewat tulisan dan pemikiranmu dibanding melihat tingkahmu”. Tapi saya rindu sendiri, saat dimana saya bisa menunjukkan sisi saya yang berbeda, yang belum tentu semua orang bisa saya temani berbagi tentang hal ini. Saya rindu sendiri, dimana saya yang memegang kendali cerita, saya menjadi tokoh utama dan pahlawannya, dan saya bebas menentukan akhir ceritanya.

Dan seperti apakah kesendirian itu? Sendiri itu berarti berada di kamar 3m X 4m yang dipenuhi buku, imajinasi dan mimpi, begadang dalam aktivitas malam saya tanpa ingin membangunkan mama dan Melly yang tidur di kamar sebelah. Sendiri itu berarti menonton film berbahasa Prancis atau Spanyol, tentang kejamnya resim Nazi atau mirisnya anak-anak korban perang di Timur Tengah. Sendiri itu berarti bisa bebas keliling dunia dengan buku, menghabiskan 1 edisi terbaru National Geography, membiarkan mitologi Yunani dan Mesir menari dalam ruang imajinasi, atau menjelajahi ratusan halaman Lonely Planet untuk mengetahui bahwa Pulau Sempu di selatan Jawa tidak kalah indah dibanding pulau Phi Phi di Thailand, tanpa interupsi tentang betapa membaca sambil berbaring itu merusak mata dan Atlantis itu hanyalah dongeng. Sendiri itu berarti saya bebas duduk di sudut favorit saya, mengatur koleksi perangko tua warisan mama sewaktu kuliah dulu, belajar membedakan benda maskulin dan feminin dalam bahasa Prancis, terpaksa mengerjakan tugas kuliah, menghitung gaji saya bulan ini sambil memperkirakan berapa yang harus saya tabung agar saya bisa ke India tahun depan. Sendiri itu berarti membalas sms seseorang di tengah malam yang mengeluh bagaimana kopi membuatnya tidak bisa tidur, tidak tahu harus ngapain di saat semua orang sudah tidur, dan akhirnya menemukan saya yang juga belum berpindah ke alam mimpi.

Sendiri saya tidak hanya terpaku pada kamar itu. Sendiri itu juga bisa berarti mengunjungi Bakti, membaca buku tentang issue dunia terbaru sambil mencari info beasiswa ke Belanda. Sendiri itu berarti menyudut di toko buku, membaca gratis buku sejarah The Beatles terbitan Inggris yang tidak akan mampu saya beli karena harganya yang hampir sejuta. Sendiri itu berarti duduk menikmati senja ditemani es teler, mengamati turis yang lewat sambil menebak mereka orang Prancis atau Jerman dilihat dari tulang hidungnya, sesekali memberi tahu mereka jangan lupa mengunjungi Togian sebelum ke Manado. Sendiri itu berarti pulang mengajar, mengamati lampu malam lewat jendela angkot sambil membayangkan kapan pemerintah bisa memberi perhatian tidak hanya pada pembangunan kota tetapi juga pada Monumen Mandala sehingga bisa menjadi objek wisata seperti halnya Menara Keagungan di Gorontalo, bukannya menjadi tempat mangkal waria yang tidak mengerti makna historis dan bagaimana semangat Trikora hanya berakhir menjadi arena tongkrongan malam mereka.

Sendiri itu berarti, saya bebas berpetualang dengan imajinasi dan impian saya sendiri. Tanpa mereka dengan jiwa konvensional yang berpikir bahwa kopi itu merusak gigi, kamar hanya untuk tidur dan berdandan, sejarah dunia terlalu rumit, keliling dunia itu mustahil, dan Monumen Mandala hanya menarik saat ada konser.

Dan inilah saya, tidak sabar menemui kesendirian itu. Tentu saja saya akan merindukan semua kebersamaan dan persaudaraan di rumah ini, saya akan sangat rindu setiap senti, detik, dan tawa yang pernah membahana di sini. Tapi maaf, saya juga rindu pada dunia saya lain, yang satunya lagi, yang akan segera menyambut saya sebentar lagi.

Dan inilah pagiku, ditemani semua benda mati yang sudah saya sebutkan di awal, saya tidak akan pernah betul-betul sendiri. Karena ada kalian, yang akan selalu ada dalam semua memori indah yang sudah kita ciptakan bersama.

Dan inilah pagiku.