Saturday, September 10, 2011

Unsocial Social Network - Hibernation

Back to Makassar means back to my REAL life. Since I left Sorowako and being here again my activity has been change, back to how it used to be. It’s kinda, even totally different than when I was in Sorowako, when I spent most of my time with internet because I didn’t have so much things to do in a small town like that. Be friends with my social network accounts, such as Facebook, Twitter, Tumblr, and so on, and so on. Made me really became an unsocial person.

But man, this is a big city, and back to real life means back again to my daily routine, meet people, and sure, become a social person. In fact, since I’m back in here and I really enjoy my new life it feels like I forget my social network accounts because I’m too glad to meet my friends and my bf and spend time with them. Oh yes, I still a social person.

So, enough for unsocial social network. I’ve spent too much time with it, so I decide to hibernating starts from today. Will leave all my account for couple of weeks while internet connection in my home is totally bad lately and I also have to reinstall my laptop and smartphone. I also think to make some underconstruction for ALL my social network account, well just for make something new to celebrate my 21th birthday, a new phase in my life. I still have no idea what it will be, well let me think about that. Due I still owe you my stories, I promise I’ll wake up soon from this hibernation.

See you again (maybe) on my birthday.
Have a nice dream.

Thursday, September 1, 2011

Today's Coffee

Yay, Lebaran!

It’s very nice to celebrate Idul Fitri this year after I spent Ramadhan without my family even it’s not the first time, actually. But being home, meeting people again, and spending time by do something I like in my room are things that I really miss. And nothing will beat, my ‘date’ with a cup of coffee, especially in the morning.

So I’ve got it, today, a very special day with coffee. Started with ‘kopi tubruk’ in the morning; a gift from someone, robusta coffee from Enrekang that he promised me since few days ago; and spent night by sitting in a coffee shop, enjoy my Colombian Medellin while he smelt his Double Espresso. Oh my, feels like I found my life back after stuck in Sorowako for more than 5 months.

But wait, ‘my life back’? Which life has back? Well I just suddenly remember how I live my life before I went to Sorowako. And how everything has different now, when almost things has been changed. The way I dress, the way I tie my hair, how I talk, how I walk, what I feel, what I think. I don’t know but, I just… feel it.

And one thing you can see from it difference now is you can find I often alone lately. When before I went to Sorowako I had a boyfie that we always been around together, but as you know we’re broke up. It was quite annoying to me when everybody asks me, “Where’s he? Gosh, you’re broke up? But how come!” damn, as it will never happen to me. But I admit to you, my biggest fear is I still remember him as every corner in this town reminds me about him. How we spent almost one year together, it’s not easy to forget, yeah I know. I enjoy my freedom now, but sometime still curse myself how I made damn mistake that back to him and now, we’re broke up again for the same reason. Call me stupid, that the fact.

But as I got from this conversation tonight is it’s not suppose to feel this way. Nothing’s wrong with the decision to broke up, even the past may never dead on my mind because all have to do is keep is as a memory and learn from that mistake. Live must goes on, as I find my new spirit now to change my life. From become a vegetarian, wear some blouse (even only for satnite), work out often, and all educated project I’ll do for this semester. And with all my friends and people I love around me, well there’s nothing wrong to being lonely for this time. It’s not forever anyway, just not the right time yet until I find the best one for being together with again.

And I believe as I tasted my coffee tonight, everything will be greater, neither without sugar nor the creamer, or no matter how much it is. Live will be better at it best time, after all.


PS: Way too much coffee makes me mad with this insomniac tonight. But if weren't for the coffee, I'd have no identifiable personality whatsoever :)

Monday, August 22, 2011

Gerhana



Bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, yang hanya bisa bersenggama ketika gerhana.
Bulan dan matahari menderita. Mereka tak pernah satu waktu. Itulah mengapa mereka mencintai gerhana.
Mereka selalu menunggu konspirasi waktu, untuk lalu berpisah berlawanan arah.

Demi bumi mereka mengitari.
Karena bumi, bulan dan matahari terhalangi.

Kau tahu apa yang bulan tinggalkan untuk matahari? Ia meninggalkan kecupan lewat embun pada fajar, tangan matahari yang berusaha mengangkat diri di ufuk cakrawala.
Sebagai gantinya, matahari menitipkan cahyanya pada milyaran bintang, untuk menemani malamnya.

Itulah cinta, tanpa bosan mereka lakukan berulang-ulang.
Embun dan bintang, pesan cinta yang tersebar ke penjuru semesta.
Demi bulan, embun, bintang dan matahari. Aku pun sedang menunggu gerhana, denganmu, tanpa akan terpisah lagi.

Denganmu, kita ciptakan gerhana sendiri,
menunggu pesan cinta yang kau titipkan pada semesta.

Saturday, August 20, 2011

That's The Dream, This's The Real

Weekend terakhir saya di Sorowako dimulai dengan percakapan telepon yang tidak disengaja. Percakapan dengan seseorang yang dua bulan terakhir menjadi teman begadang jarak jauh saya, teman ngobrol lewat chat dan sms, teman berbagi cerita tentang musik folk, film Prancis, kopi, dan indahnya alam Indonesia. Seseorang yang selama 3 tahun kadang berpapasan dengan saya di kampus tanpa pernah dilanjutkan dengan sebuah percakapan karena sama-sama tidak tahu ternyata punya hobi dan minat yang sama dengan saya.

Kemarin saya sempat bercerita kepada dia tentang cita-cita saya, betapa hal itu selalu berubah mulai dari saya kecil sampai hari ini. Bagaimana tayangan Discovery Channel dan National Geography sukses membuat saya bersemangat belajar sejarah karena ingin menjadi arkeolog semasa SD. Menginjak SMP, ajaibnya tubuh manusia dan nilai biologi yang selalu di atas rata-rata menginspirasi saya untuk menjadi dokter. Masuk SMA, kecintaan pada dunia bola dan fashion membuat saya berpikir untuk kuliah komunikasi agar bisa menjadi wartawan untuk dua bidang tersebut. Dan coba tanya saya hari ini, apa cita-cita saya, maka saya akan menjawab ingin menjadi travel-writer, sesuatu yang seluruh dunia tahu betapa saat ini saya sedang senangnya menulis dan besarnya obsesi saya untuk traveling keliling dunia suatu saat nanti.

Tapi lihat apa yang malah saya pelajari di bangku kuliah. Teknik industri. Sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, sesuatu yang entah kenapa saya jadikan pilihan kedua saat mendaftar kuliah. Sesuatu yang membuat saya rela meninggalkan Akuntansi UGM dengan predikat 100 terbaik dunianya yang selalu disebut dalam doa mama sepanjang tahun terakhir saya di SMA. Sesuatu yang sampai hari ini kadang membuat saya bingung mau jadi apa saya dengan ilmu ini setelah kuliah nanti.

Hingga satu pertanyaan meluncur, “Jadi sebenarnya kamu mau jadi apa? Memangnya mau jadi karyawan?”. Oh well, pertanyaan yang bahkan di saat saya sudah bersiap mengerjakan skripsi belum bisa saya pastikan jawabannya. Memang benar, seharusnya saat ini saya sudah mulai berpikir mau jadi apa saya nanti, bukan lagi angan-angan menggali situs purbakala di Peru atau meliput Piala Dunia 2014 di Brasil. Tetap mengkhayal, atau semua perjuangan begadang demi menyelesaikan gambar kopling atau ribetnya menghitung data anthropometri akan sia-sia. Kali ini saya harus realistis, memikirkan pekerjaan apa yang nanti akan menghidupi saya dan akan menjadi tumpuan hidup hingga hari tua.

Tapi menjadi karyawan, entahlah. Rasanya saya belum siap harus tunduk pada jam kerja dan kenyataan bahwa hanya akan ada 12 hari cuti dalam setahun. Terbayang saya harus membetahkan diri di kantor dan itu berarti saya tidak akan bebas traveling ke manapun seperti impian saya. Lima bulan berada di proyek ini saja sudah membuat saya bosan setengah mati, bagaimana nanti jika rutinitas seperti ini akan menjadi suatu alasan untuk tetap bertahan demi hidup dan keluarga? Saya mungkin belum siap, mungkin tidak mau. Kalau boleh egois, saya tidak mau bekerja. Mending saya jadi backpacker saja seperti teman-teman di komunitas saya. Keliling dunia dengan biaya sangat minim, hidup di jalan, tidak perlu memikirkan kekayaan karena dengan melihat dunia kekayaan pengalaman saya bakal lebih dari sekadar apa yang orang awam sebut dengan sejahtera. Tapi tidak dengan kenyataan. Fakta bahwa saya adalah anak pertama dan akan menjadi tumpuan harapan keluarga, punya ibu pensiunan yang ingin sekali saya bahagiakan hari tuanya dan adik perempuan kecil yang masih butuh sekolah setingginya dan sudah mulai mengukir mimpinya sendiri untuk kuliah di Prancis memaksa saya untuk berpikir tentang masa depan saya nanti. Memaksa saya untuk siap jika suatu saat nanti semua impian dan rencana saya harus sedikit terhalangi dengan tembok ruang kantor, padatnya deadline, dan jumlah cuti yang rasanya sangat sulit untuk mewujudkan impian saya untuk keliling dunia.

Dan itulah kenyataannya. Tahun depan saya mungkin bukan lagi mahasiswa, rutinitas saya tidak lagi rumah-kampus-bioskop-toko buku-warkop-karaokean-liburan, dan di pagi hari pikiran saya bukan lagi tentang ‘Pakai baju apa ke kampus hari ini?’, tapi ‘Minggu ini ada deadline apa? Rekening listrik sudah dibayar? Harus belanja apa untuk masak sebentar malam? Jangan lupa beli susu kalsium untuk Mama dan kasih Melly uang untuk beli seragam baru’. Mungkin saat itu saya yang akan pegang kendali, menggantikan tahta mama yang sebelumnya mengontrol semuanya, juga dengan cara dia membaktikan dirinya untuk kami berdua sebagai karyawan, 20 tahun di balik meja, komputer, dan deadline yang menggila.

Tapi hey, setidaknya saya masih menjadi mahasiswa sampai tahun depan, kan? Masih ada waktu untuk senang-senang, menikmati hari bersama teman-teman dan pacar, masih ada waktu untuk belajar mempersiapkan semua perubahan dan menerima tanggung jawab itu. Lagipula tidak semuanya buruk, kok. Setidaknya salah satu bukti nyata adalah walaupun mama telah mengabiskan hampir separuh hidupnya di balik meja kantor dia tetap bisa mengelilingi hampir separuh dunia hanya dengan cuti 12 hari setahun. Mungkin saya bisa lebih baik dari itu.

Dan dengan semua pengalaman, mimpi, dan semester tujuh yang akan menyongsong Senin depan, tanyakan saya ingin jadi apa suatu hari nanti, dan jawabannya adalah ‘Saya ingin menyelesaikan kuliah tahun depan, bekerja di perusahaan international, di umur 25 mendapat beasiswa untuk belajar Industrial Ecology di Belanda, keliling Eropa dan India, serta menemukan seorang pemimpi yang akan menjadi ayah dari jagoan-jagoan kecil saya yang akan melanjutkan mimpi-mimpi kami dan mungkin, mengukir mimpi mereka sendiri’.

Well, cita-cita mungkin boleh mati, tapi impian akan tetap hidup dan menunggu untuk diwujudkan. Seperti itu, kan?

Friday, August 19, 2011

Akan Ada Hari

Akan ada hari dimana aku menantimu di balik pintu.
Menjaga hangatnya kopimu, menunggu diseruput lelahmu.

Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu.
Kita bersujud dalam sepenggal waktu, berulang kali.

Akan ada hari dimana seluruh doa yang terucap dari bibirmu.
Kuamini juga dalam hati, satu shaf di belakangmu.

Akan ada hari kusiapkan sahurmu, dengan senang hati.
Dan menanti berbuka sembari mengukir senja.

Akan ada hari, kaudengungkan adzan di balik daun telinga sosok yang mungil,
yang mewarisi sebagian parasmu, dan sebagian tingkahku.

Akan ada hari, kita melihat nisan. Dan memesan sepetak lahan, berdampingan.
Untuk nanti, ketika esok tak ada lagi.

Akan ada hari, entah kau, atau aku yang merana. Karena salah satu dari kita akan pergi lebih dulu. Meninggalkan dunia, melepaskan fana.

Thursday, August 18, 2011

Sendiri.

Dan inilah pagiku, duduk sendiri ditemani segelas kopi tubruk hangat, sebungkus Oreo original, novel tentang Rusia yang baru belum seperempatnya dibaca, lagu country yang petikan gitarnya membuat kepala saya bergoyang ke kiri dan kanan, dan sakit perut yang mengawali bolosnya saya dari puasa Ramadhan sampai setidaknya seminggu ke depan. Setidaknya dengan sakit ini berarti saya perempuan sehat yang Insya Allah bisa menjadi ibu untuk anak-anak saya nanti.

Hanya kurang seseorang dan obrolan seru tentang traveling untuk menjadikannya sempurna.

Serius, akhirnya saya bisa sendiri di rumah sebesar ini yang dihuni 16 orang yang selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bagus dengan semangat badmintonnya, Iqra dengan gamenya, Mili dengan kegiatan pacarannya di telepon, Awa dengan aktivitas keibuannya di dapur, dan saya? Saya dengan obrolan seru yang tidak pernah ada habisnya bersama Cha yang sukses membuat rumah rame dan tidak jarang, ribut. Ditambah dengan kunjungan dari teman-teman Ranau dan Poso membawa kejahilan Fikar dan kejayusan Kiky  yang menjadikannya kebersamaan yang sempura. Tapi pagi ini saya sendiri, ditinggalkan mereka yang masih harus tunduk pada kontrak kerja yang belum tuntas sampai minggu depan.

Sendiri? Mungkin aneh, tapi inilah yang saya rindukan selama hampir 5 bulan terakhir, sesuatu yang mungkin kebanyakan orang pikir sangat tidak ‘saya’. Saya yang selalu aktif dan cerewet kangen sendiri. Sedang galau, tidak. Hidup saya sangat indah saat ini, saya memiliki semuanya, bahkan mimpi yang menunggu untuk diwujudkan; dikelilingi orang-orang yang saya sayangi dan dinanti mereka yang saya rindukan;  dan semangat untuk pulang dan bertemu lagi dengan keramaian Makassar.

Sebut saja saya berkepribadian ganda, dan semua yang saya tunjukkan selama 5 bulan ini sudah cukup dan ingin berbalik menunjukkan sisinya yang lain. Bahkan mungkin ketika kalian membaca ini kalian akan berkata, “Ini sangat tidak kamu!”, seperti Madi yang pernah berkata “Saya lebih baik mengenal kamu lewat tulisan dan pemikiranmu dibanding melihat tingkahmu”. Tapi saya rindu sendiri, saat dimana saya bisa menunjukkan sisi saya yang berbeda, yang belum tentu semua orang bisa saya temani berbagi tentang hal ini. Saya rindu sendiri, dimana saya yang memegang kendali cerita, saya menjadi tokoh utama dan pahlawannya, dan saya bebas menentukan akhir ceritanya.

Dan seperti apakah kesendirian itu? Sendiri itu berarti berada di kamar 3m X 4m yang dipenuhi buku, imajinasi dan mimpi, begadang dalam aktivitas malam saya tanpa ingin membangunkan mama dan Melly yang tidur di kamar sebelah. Sendiri itu berarti menonton film berbahasa Prancis atau Spanyol, tentang kejamnya resim Nazi atau mirisnya anak-anak korban perang di Timur Tengah. Sendiri itu berarti bisa bebas keliling dunia dengan buku, menghabiskan 1 edisi terbaru National Geography, membiarkan mitologi Yunani dan Mesir menari dalam ruang imajinasi, atau menjelajahi ratusan halaman Lonely Planet untuk mengetahui bahwa Pulau Sempu di selatan Jawa tidak kalah indah dibanding pulau Phi Phi di Thailand, tanpa interupsi tentang betapa membaca sambil berbaring itu merusak mata dan Atlantis itu hanyalah dongeng. Sendiri itu berarti saya bebas duduk di sudut favorit saya, mengatur koleksi perangko tua warisan mama sewaktu kuliah dulu, belajar membedakan benda maskulin dan feminin dalam bahasa Prancis, terpaksa mengerjakan tugas kuliah, menghitung gaji saya bulan ini sambil memperkirakan berapa yang harus saya tabung agar saya bisa ke India tahun depan. Sendiri itu berarti membalas sms seseorang di tengah malam yang mengeluh bagaimana kopi membuatnya tidak bisa tidur, tidak tahu harus ngapain di saat semua orang sudah tidur, dan akhirnya menemukan saya yang juga belum berpindah ke alam mimpi.

Sendiri saya tidak hanya terpaku pada kamar itu. Sendiri itu juga bisa berarti mengunjungi Bakti, membaca buku tentang issue dunia terbaru sambil mencari info beasiswa ke Belanda. Sendiri itu berarti menyudut di toko buku, membaca gratis buku sejarah The Beatles terbitan Inggris yang tidak akan mampu saya beli karena harganya yang hampir sejuta. Sendiri itu berarti duduk menikmati senja ditemani es teler, mengamati turis yang lewat sambil menebak mereka orang Prancis atau Jerman dilihat dari tulang hidungnya, sesekali memberi tahu mereka jangan lupa mengunjungi Togian sebelum ke Manado. Sendiri itu berarti pulang mengajar, mengamati lampu malam lewat jendela angkot sambil membayangkan kapan pemerintah bisa memberi perhatian tidak hanya pada pembangunan kota tetapi juga pada Monumen Mandala sehingga bisa menjadi objek wisata seperti halnya Menara Keagungan di Gorontalo, bukannya menjadi tempat mangkal waria yang tidak mengerti makna historis dan bagaimana semangat Trikora hanya berakhir menjadi arena tongkrongan malam mereka.

Sendiri itu berarti, saya bebas berpetualang dengan imajinasi dan impian saya sendiri. Tanpa mereka dengan jiwa konvensional yang berpikir bahwa kopi itu merusak gigi, kamar hanya untuk tidur dan berdandan, sejarah dunia terlalu rumit, keliling dunia itu mustahil, dan Monumen Mandala hanya menarik saat ada konser.

Dan inilah saya, tidak sabar menemui kesendirian itu. Tentu saja saya akan merindukan semua kebersamaan dan persaudaraan di rumah ini, saya akan sangat rindu setiap senti, detik, dan tawa yang pernah membahana di sini. Tapi maaf, saya juga rindu pada dunia saya lain, yang satunya lagi, yang akan segera menyambut saya sebentar lagi.

Dan inilah pagiku, ditemani semua benda mati yang sudah saya sebutkan di awal, saya tidak akan pernah betul-betul sendiri. Karena ada kalian, yang akan selalu ada dalam semua memori indah yang sudah kita ciptakan bersama.

Dan inilah pagiku.

Monday, August 15, 2011

Rest In Peace, Meidian Wahyu...

One thing that really made me shocked today is when I know that Mas Median has died.

We’re not so close each other, even we’ve never met before. I knew him from my ex-boyfriend because they’re met in I-STEP (Intensive Student Technopreneurship) Competition in Bogor. Both of them are class of 2008 and me in 2009, just one year after them. I only knew him by Facebook and stories from their friend, including my ex. Although we just ‘met’ like that but I shared everything with him.

Mas Median is a very smart and friendly guy. I adore him because he’s so clever in English, his TOEFL score is 597 (last time I asked him about one year ago), which makes me really envy and inspired me at the same time to keep improve my English. And I shared anything with him. From about how I really want to improve my English and have a great TOEFL score like him, how we always played by mix English words into a unique sentence, even how I hate looking jilbaber wears legging. I still remember how I protested, “But it just wrapping, not covering! You think is it kiss or diss?” and he answered it with a little joke, “It’s dish, my little sister”. Well this is what I said how we mix English word became something funny.

Not only in English, although he was an International Relationship student but he’s also really smart in technology. His experiment, Kendal’s Bicycle Power Plant showed how big his dream to give electricity to remote society. Yeah, you can see how he really wants to see better Indonesia in the future.

Too bad he’s gone too soon. He died by an accident with a truck when he was riding a motorcycle to pick up his mom. He suffered a concussion and could not be saved, then finally went to. He went out and left his beloved friends and family, great experience, and lots of dreams. I still can find his last comment on my Facebook and as usual, we played the words and for this time I swear I feel really sorry that I didn’t reply his comment. Now, there’s no more a mate to mix English words, a place to share what’s on my mind, a friend to share anything. Yes, I still have lots of friends around me that I can meet every day and with me as long as I want, but no one can be the same like him, for God sake. I also think who will continue his dream about his experiment, but I guess his close friends must be know about this his last testamentary, and I hope they’ll continue it to make it come true.

The last comment on my profile

Rest in peace, Mas Median. Thanks for all the shares and inspirations.
Will gonna miss our conversations. :’(

Sunday, August 14, 2011

Don't Tell Me To Stop



low low low
but don't wanna stop stop stop
low stop low stop
i don't mind the Gap, don't you feel it too?

high high high
let me make it mine mine mine
high is mine high is mine
your un-mainstream ideas, would you share it too?

it is so wrong, i know
but my heart is yearning for so long
so please be nice to me, i wanna feel it a little bit longer
with somebody who has a stop signal on his forehead



PS: I wrote a poem a few months ago. Not a special poem, but someone has made it become a song. I'm not listen to it yet, but I swear it sounds groovy. So is there anyone wanna make this too?

Saturday, August 13, 2011

Last Week In Sorowako

Well folks, so how are you?

After more than a month since my last post, here I am back to writing. Okay okay, sorry for being a very bad blogger, I’ve never shared all my stories to you again and I owe you all of them. I owe you to tell what I did this last month, how I spend my weekend in Torajaland (with did trekking and rafting, it was so… WOW!), stories when I take a break and back to Makassar, even I owe you to share what’s on my mind now and what’s my latest plan, dream, and goal. So please stop to judge and think there’s something wrong with me. Just take your seat, and I’ll write to you. Hey, I’m serious now! I’ll write them all!

But wait, where I should start?

Yeah, I have so much to tell and share, too much makes me can’t decide which the best one to start. But maybe you wanna asked “Where the hell was I?” I wasn’t going anywhere I’m still in Sorowako, except the moment when I traveled to Torajaland and Makassar. I just feel (this I have to admit) too lazy to write. I don’t know, but I feel like I lost all my mood and passion. Even holiday can’t made me spirit back. I guess there’s nothing wrong with me, and there’s nothing wrong at all. So, what’s the problem?

Well maybe the reason is because I already feeling bored being here. It’s very nice being here actually, as I told you that I feel so lucky I can join this project and get so MUCH experience from it, all of them are priceless. But theses routines, problem with my housemate (about two persons whose act really disturbed us), and other things make me feel really bored. I can’t lie, I miss my life before. And the time when I back to Makassar and met all my friends, my family, even my room made me more realize how much I miss it. I miss my room, place when I feel like a queen, everything belongs to me, and I don’t have to share with other. I miss how my mother being mad at me and the way I tease my little sister. I miss hang out time with my friends, sing together, our silly dance, and spend lots of times discuss about books, movies, friend’s bad attitude, boys, anything. Most of them, I MISS BEING A STUDENT!!! I miss do my paper, fall asleep in class, write on my notebook, and the way I feel smart with them.

And here it is, my last weekend in Sorowako. My contract will expire next Tuesday and I’ll return home next weekend. I don’t know what I’m supposed to feel. Sad, of course. This gonna be the best experience I’ve ever had. But I also feel excited with that moment. Being home and get my life back. I can’t wait to back to college and finish my study (I’ll graduate next year it’s a must!), learn TOEFL more and improve my Dutch again, meet my friends, and also my bf for sure. I already have so much plan to do when I’m home, but let me tell you later (okay I owe you one more story). But one thing for sure, I’ll struggle to my study as I promise to myself to graduate next year. Wish me luck!

So what’s the best thing to do for my last week in here? Well I don’t decide yet, I really want to swim at lake but I can’t because I’m fasting now. I’m not ready yet to pack my stuff because I worry I still need to use them next week. Well maybe I’ll start by download as much song as I can because this laptop have to return to office on Tuesday, LOL.

Happy weekend, awesome!

Monday, July 11, 2011

They Travel, I Trapped

Dan mereka semua sibuk traveling, menikmati liburan masing-masing.

Nupy ngabisin liburan di Johor, ke tempat mamanya yang lagi kuliah S3 di sana.
Abang Glendi lagi trip keliling Jawa dan Sumatra, touring bareng gank motornya.
Kak Akku abis dari Samalona, dan sekarang lagi prepare mau diving di Kepulauan Pangkajene.
Kak Mei udah ke Toraja dan Bira, liburan bareng sesama CSers, Daniela dari Swiss dan Pako dari Spanyol.
Nuni lagi kerja sih di Wetar, ah but you know wherever she is, she always calls it ‘traveling’.
Mama dan Meli baru aja balik ke Makassar. Kemana saja mereka traveling selama ini saya belum tau, belum dengar cerita lengkap dari mereka.

Tapi coba kita dengar cerita ‘anak gunung’! Setelah Gunung Semeru, Gunung Rinjani, dan Kepulauan Karimunjawa, dia bakal mendaki Gunung Arjuna, meninggalkan saya selama seminggu. Tanpa sinyal, tanpa kabar, dan dengan setumpuk rasa kangen yang sudah ditahan dari kemarin-kemarin.

Dan di sinilah saya, bumi nikel Sorowako, masih berkutat dengan proyek, Excel, dan berat badan saya yang terus bertambah. Ah, betapa kangennya saya dengan masa-masa trip selama liburan, tiduran di dek kapal dibuai semilir angin laut, kecapean memikul backpack saya yang kadang kelebihan muatan karena oleh-oleh, bahkan tersesat di sebuah kota di negara asing yang pada akhirnya memaksa saya menggunakan Bahasa Inggris super pas-pasan demi mencari warung makan halal dan theme park dimana saya bisa memuaskan hobi saya sejak kecil, naik roller coaster.

Kasihan backpack dan Lonely Planet Indonesia saya harus nganggur liburan kali ini. Tidak ada roller coaster baru yang saya taklukkan. Koleksi foto saya di depan Bank Indonesia juga tidak bertambah kali ini. Yah, uang saya tambah banyak, tapi tidak untuk pengalaman dan track saya di jalan.
And hello you, you whose I mention your name above, all of you. Shall we meet and travel together? Or would you please come and escape me from this place?

I’m trapped. Please give me more time for travel.
I miss it.

Even Kaskus Thinks I'm An Ambonese

Guess what? I’m in Kaskus today!

As we know, Kaskus is the largest Indonesian community site, but very rarely visit that. Until my friend Veli told me that she found my pic in one of it page!


That pic was took when I was attended my aunt’s wedding party, at my around 16 years old, I guess. How the creator find that pic, I think from my friendster (so oldish, huh?). Oh well, am I used to make my face up like that? And am I really look like that? With too much ethnic in my blood I think I can’t choose which one is the most prominent visible, even Ambonese. So what do you think about?

At least they think I’m pure Indonesian, after all.

Thursday, July 7, 2011

Why?

Why counting from one, when everything will return to none?
Why do we tango in two, when it cause you nothing but blue?
Why can’t we make us three, when asylum won’t catch us free?
Why bother gather in four, when we don’t have dreams to live for?
Why launching in five, when there’s no such thing as after life?

..........

Why asking whys, when you won’t be around showing the beauty of lies?

Wednesday, July 6, 2011

Best of Sorowako

Working in Sorowako is so fun, especially for me who like sea, hills, everything natural, everything close to nature. I like the way I spend my time in here, especially on weekend. Spending morning at Matano Lake - the fifth-deepest lake in the world – with swimming, paddling kayak, do wind surfing, or just looking around. Or riding my bicycle around the town in the afternoon, try paddling on the rise then glide smoothly to downhill while pass the houses which made from wood, let the wind blow my hair. Quite dangerous think my friend, but really spur my adrenaline.

To get here, we spend 12 hours by land from Makassar, only night bus available. This is the first time I’m being here, and also the worst journey I’ve ever had, I think. Imagine, 12 hours traverse winding road from 7 PM to 7 AM nonstop, well it’s really torturing my head, I can’t sleep all night long. Even in the morning when I arrive I feel like I can’t feel myself anymore, all I need is only find a bed immediately where I can lie down, sleep, and found my head back. I prefer go to Batam Island from Singapore by ferry, even the wave is so wild, at least it spend 1 hour only.
But guess what I find after, paradise! From sea, lake, mountains, hills, waterfall, even the mine. Everything’s great, everything’s in here, all of them. And this is my most favorite part, sit at the corner of pier, watch bright afternoon sky share the horizon with rainbow across the Verbeek mountain, the world’s nickel resources, and kids jumping into the blue lake. It always, always, and ALWAYS be the best, the perfect horizon that I’ll be missing when I back to home later.

And nothing beats it! Even if you would rather to see view from height, you still can find it. Try to go Poci, only one hour trekking and you can see the whole Sorowako from that hill. Choose your favorite moment, morning to capture the moment when plane take off and penetrate the morning mist, or afternoon and see how lights illuminating the town. All of them, enhanced with Vale Inco, the second-biggest nickel mining company in the world, Indonesia’s heart of economic. This is how sea meets hills, and nature meets technology.

 
Sorowako day and night


See? How God works in details, and people harmonize it in modern way.
Enchanting Sorowako!

Monday, July 4, 2011

...

aku ingin mengukir namamu di balik lemari,
lalu pintunya kututup rapat dan kukunci.
tapi untuk apa?
seakan kau masih peduli saja.

rasanya kawan,
seperti dicabik secara membabi buta,
tiap mili kulitku dapat merasakan pedihnya.
rasanya sungguh menyedihkan,
seperti terjatuh ke lubang jebakan yang sama,
lubang yang seharusnya sudah lama disingkirkan.
aku bodoh.
aku buta dan tuli.
aku tidak bisa merasakan apa apa.
tapi aku tidak hampa.

paling tidak, sekarang aku mengerti.
tidakkah kamu sadari, aku memakai kacamata untuk melihat kamu dengan lebih jelas.
menelanjangi sampai ke dasar hatimu agar aku tahu bagaimana harus bersikap.

aku ingin mengukir namamu sayang,
tapi bukan lagi di balik lemari berkunci.
aku ingin menulisnya di atas pasir,
agar kapanpun aku mau namamu bisa tersingkir.

mulai detik ini aku tidak akan menulis nama siapapun lagi.

Sunday, July 3, 2011

Mari Bergundah Gulali Part 2

Why aren’t you texting the last person you kissed?
Because we’re in different place now and we’re too busy do our own activity.

What are you going to do later?
I don’t know. Maybe watch a movie or make a cam conversation.

Are you in a relationship with the last person you kissed?
No. Not yet.

Are you in love?
Yes. Really I am.

Did the last person you kiss have tattoos?
Negative.

Could you name everyone you have kissed this year?
Should I?

Are you drunk?
I’m trying to stop.

Ever get hurt by someone who promised they wouldn’t?
Hasn’t everyone?

Would you ever get a tattoo?
I wish but I couldn’t!

How many piercings do you have?
Just on ears.

Do you remember the first time you kissed the last person you kissed?
Ah yes, a sudden kiss.

Have you ever had a best friend of the opposite sex?
Always.

Are you one of those people who hate crying in front of others?
Definitely!

Have any interesting conversations lately?
Is there more interesting than about traveling for me?

How many people do you completely trust?
ZERO.

Do you still talk to the person you fell the hardest for?
I don’t know who that is. Looking back all of my feelings have seemed false.

Which movie did you last see in theaters?
I’ve been to cinema 5 months ago and I already forget what movie it is.

If you could go back in time and change things, would you?
Of course.

Who has the last person of the opposite sex you had a conversation with?
Fikar?

Is there someone who you can spend every minute with and be happy?
Yes. Too bad he so far away from me.

Who last told you they loved you?
H****, surely. No one else does.

Do you like to cuddle?
Favorite thing in the world! More than kiss!

Does someone like you right now?
Biggest joke.

Are you a risk taker?
Mostly, depends on what mood I’m in.

If the year consisted of only one season, which would you choose?
Spring.

Have you ever woken up next to someone and were freaked out?
Nope.

Do you have a bad temper?
Ah, depends on who you are and what you do to me.

Do you miss someone?
I do. Very much.

How do you feel about your hair?
I want make it bald.

Do you drink coffee?
Too much.

Do you find piercings attractive?
Tattoo’s more interesting.

When is your birthday?
September 21st. World peace day.

Is there a person of the opposite sex who means a lot to you?
Surely.

Are you mad at your best friend?
Non-existent.

Is this year the best of your life?
Yeah, this is it! But next year will be better, I swear.

Ever harmed yourself?
When I was weak, not anymore.

If so, why? If not, would you ever?
Because I was weak. I’d never do it again.

What’s your current problem?
I dream too much for my life. I’m afraid I can’t make them real.